Habib Lutfi dan Nasionalisme Kaum Sufi

Kebangkitan beragama muncul dalam bentuk yang mengerikan. Sebuah perang dikobarkan dalam upaya pendirian negara Islam di Irak dan Suriah. Tak ada yang menduga setelah hilangnya Al- Qaeda, kelompok bernama ISIS atau IS ini muncul. Di Indonesia, relawan yang pernah ikut perang di Afghanistan menjadikan Poso, Sulawesi Tengah sebagai medan “pertempuran”. Saat ini, Poso juga masih menjadi medan “perjuangan” oleh Santoso, ketua Mujahidin Indonesia Timur yang berbaiat kepada ISIS. Indonesia telah terpapar limbah ideologi ISIS dari Timur Tengah. Masih ada harapan untuk menormalisasi ideologi itu ke jalan kebenaran.
Ideologi kekerasan telah mengakar dalam orang-orang yang mengaku melakukannya demi sebuah “kebaikan”. Dakwah dimaknai dengan perang. Ini pemaknaan ekstrim dan keluar dari konteks serta mengabaikan dinamika zaman.
Keberadaan negara-bangsa yang majemuk terancam dengan ideologi ekstrim. Perlu sebuah ideologi tandingan yang terus-menerus dan massif disebarkan kepada masyarakat mengenai urgensi menjaga bangsa-negara dari kehancuran. Indonesia tak boleh menjadi Timur Tengah yang terkoyak karena perang atas nama agama dan memerangi sesama orang beragama.
KH Habib Muhammad Lutfi bin Yahya asal Pekalongan, Jawa Tengah, seorang tokoh tarekat (sufi) yang memiliki peran dalam penyebaran faham nasionalisme. Dalam setiap dakwahnya melalui forum pengajian di mana dan kapan pun nyaris tak pernah luput mengingatkan agar nasionalisme tetap utuh. Dia telah selesai dengan tetekbengek urusan khilafiyah dan urusan politik yang memicu pengkotak-kotakan umat muslim. Menurutnya, umat muslim sekarang sudah harus membuka seluruh sekat agar menyatu dalam upaya membangun bangsa melalui sains dan ilmu pengetahuan di segala bidang.
Hal ini agaknya adalah sebuah wujud dari laku seorang sufi yang hidup di tengah keramaian dan modernitas. Adab atau akhlakul karimah yang merupakan salah satu sumber tasawuf diejawantahkan melalui penggalian sejarah bangsa yang menghantarkan Habib Lutfi untuk konsisten mengusung dan menguatkan nasionalisme. Benang merah nasionalisme dan tasawuf adalah malu. Di sini sebuah hadits menemukan relevansinya: malu adalah sebagian dari iman. Sikap malu kepada pejuang, pendiri bangsa dan siapapun yang telah mengorbankan jiwa-raga untuk bangsa-negara. Dengan malu, orang akan menghargai masa lalu dan menjaga masa kini sebagaimana telah diperjuangkan di masa lalu.
Habib Lutfi memadukan pendekatan konvensional dan modern dalam menyampaikan materi dakwahnya. Dia menyambangi akar rumput, tokoh di tingkat nasional dan internasional. Dia telah menjadi role model bagi umat muslim dunia dalam memandang tanah air. Dia telah memberikan pengaruh umat muslim menandag bangsa-negara.
Nasionalisme adalah sebuah doktrin dan juga sebuah jalan untuk mengembalikan orang-orang yang tersesat ke dalam ideologi yang meyatukan seluruh kalangan agar terus menopang bangsa-negara. Nasionalisme menjadi harapan dan jalan agar tercipta sebuah peradaban bangsa yang dapat dijadikan inspirasi bagi muslim dunia.


KEBANGKITAN (kembali) agama Islam di kancah dunia internasional dengan pendekatan perang (harb) menimbulkan kerenggangan dalam relasi antaragama. Islam dituduh oleh komunitas internasional khususnya Eropa dan Amerika Serikat sebagai dalang kekerasan terhadap kemanusiaan. Serangan teroris Al-Qaeda membuka babak baru bagi massifnya gerakan ekstrimisme dan menciptakan sindrom Islamphobia di kalangan warga nonmuslim Sedunia.
Seluruh umat muslim menjadi korban dari anarkisme yang diciptakan sekelompok orang yang mengklaim beragama Islam, namun melumuri keislamannya dengan darah.
Indonesia terkena dampak pascaserangan Al-Qaeda pada 11 September 2001 di Amerika Serikat. Jaringan-jaringan Islam garis keras terbentuk dengan afiliasi jaringan Al-Qaeda. Jaringan lainnya pun bangkit dan menjadi angin segar bagi gerakan-gerakan ekstremisme di Indonesia. Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang kemudian berganti nama menjadi Islamic State (IS) hadir dengan propaganda dan permainan media menjaring massa mulai Timur Tengah, Eropa hingga Indonesia. Ancaman ditebar ke berbagai negara untuk menciptakan ketakutan bagi masyarakat. Bagai pisau mata dua, ancaman itu justru berbalik respon negatif dari warna agama lain tentang citra Islam.
Sebuah film terbaru berjudul 13 Hours: The Secret Soldiers Of Benghazi (2016) mencerminkan kebringasan ISIS yang menarget seorang Duta Besar Amerika di Bengzahi, Libya pada 11 September 2012 atau tepat setahun setelah peristiwa 11/9. Film ini berdasarkan pada kisah nyata kematian Christopher Stevens, Dubes Amerika Serikat untuk Libya dan usaha penyelamatannya oleh mantan pasukan elit AS.
Islam digambarkan dalam film itu bukankan sponsor kekerasan, namun atributnya menunjukkan para penyerang adalah muslim. Agaknya begitulah posisi Islam saat ini. Cara pandang dunia terhadap Islam dipengaruhi oleh ISIS. Tapi, bagi orang yang mengenal Islam, ISIS bukanklah Islam. Sebiji atompun tak ada keislaman di hatinya. ISIS adalah wajah buruk mimpi buruk bagi umat muslim. Perlu upaya luar biasa agar dunia terus-menerus yakin dan percaya adanya dogma Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Keberadaan kelompok ekstremisme yang mengatasnamakan Islam menjadi ancaman bagi kelangsungan kehidupan yang majemuk. Propaganda IS yang disebar ke seluruh dunia menjadi ancaman global yang patut diwaspadai oleh Indonesia. Terlebih terdapat 514 warga negara Indonesia diduga telah bergabung dengan IS (Tubagus Hasanuddin: sebanyak 514 WNI gabung ISIS, 18 Maret 2015, antaranews.com. Diakses 25 Maret 2016).
Pertama, seluruh aktivis gerakan jihad meyakini seluruh rezim yang berkuasa di negeri muslim telah murtad karena membuat peraturan perundangan tidak berlandaskan syariat Allah. Kedua, mereka berperang membela rezim-rezim kafir, seperti polisi dan tentara secara kolektif termasuk kelompok murtad (riddah ammah). Ketiga, selama seseorang masih meyakini Allah sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad sebagai utusannya, maka orang tersebut masih termasuk muslim, meskipun hidup dalam rezim kafir. Keempat, setiap ulama yang membela rezim kafir dan mencap gerakan jihad sebagai khawarij dianggap sebagai ulama munafik.
Kelima, para aktivis jihad menganggap sistem demokrasi merupakan sistem kafir yang bertentangan dengan Islam, baik secara global maupun terperinci. Keenam, kelompok Syiah dianggap sebagai kelompok sesat atau ahlu bid’ah meskipun gerakan jihad tidak menghukuminya sebagai kafir. Ketujuh, sebagian besar gerakan jihadi bersikap moderat dan menaruh hormat dalam masalah mazhab.
Kedelapan, mayoritas aliran jihadi terpengaruh oleh pemikiran Ibnu Taimiyah dan doktrin salaf dalam memerangi ajaran sufi. Kesembilan,  kendati terdapat beragam gerakan jihad dan aneka perbedaan dalam hal pemikiran dan metode gerakan, namun mereka masih menghormati satu sama lain. Kesepuluh, semua aliran jihadi mengkafirkan sekulerisme, nasionalisme dan kebangsaan. Kesebelas, semua aliran jihadi menolak kompromi atau perdamaian dengan Israel dalam kasus Palestina. Keduabelas, orang kafir di dalam komunitas Islam tidak akan diperangi sepanjang menaati peraturan perdamaian dan memegang teguh prinsip-prinsip alhu dzimmah. Ketigabelas, mayoritas aliran jihadi setuju bahwa Amerika Serikat adalah simbol kekuatan Nasrani dan Yahudi yang harus diperangi.
Menurut As’ad Said Ali dalam Al-Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014: 50-52) posisi Indonesia di mata gerakan jihad internasional bukan musuh jauh dan musuh dekat. Tetapi banyak warga Indonesia berpartisipasi menjadi relawan perang ketika Afganistan hendak diduduki Uni Soviet pada 1980-an. Partisipasi orang Indonesia dalam perang Afganistan tersebut membawa pulang transformasi ideologi perang yang menempatkan ideologi komunisme Soviet sebagai ideologi yang bertentangan ideologi Islam. Pandangan itu semakin subur dengan dipupuk ke-13 doktrin pokok ideologi jihad di atas.
Para alumni Afganistan ini kembali ke Indonesia dan mulai aktif kembali saat terjadi kerusan di Poso, Sulawesi Tengah pada 1990-an yang berbau konflik antara pemeluk Islam dan Nasrani. Sampai saat ini, Poso masih menjadi lokasi persembunyian jaringan Santoso alias Abu Wardah yang memiliki nama kelompok Mujahidin Indonesia Timur. Kepolisian dan TNI sejak akhir 2015 dan awal 2016 menggelar operasi khusus bersandi Camar Maleo dan Tinombala untuk memburu Santoso di pegunungan Poso.
Kekerasan dengan motif agama itu akan tergeser ketika pluralisme tidak disadari sebagai nilai kehidupan oleh penduduk yang berdiam di tanah Indonesia. Romo Franz Magnis-Suseno dalam Ketika Makkah Menjadi Seperti Las Vegas: Agama, Politik, dan Ideologi (2014: 202-203) mengatakan pluralisme bukan berarti semua agama adalah sama benarnya. Menurutnya persoalan truth claim dikembalikan kepada Allah. Yang diperlukan dari pluralisme adalah kesediaan untuk menerima, menghormati dan bahkan menghargai mereka yang berbeda agama dan keyakinan relegius.
Persoalan klaim semua pemeluk meyakini kebenaran agamanya masing-masing. Tetapi di tengah kehidupan yang berlandaskan Pancasila, kesadaran klaim itu ditempatkan di bawah kesadaran universal. Kepentingan bangsa harus diutamakan daripada kepentingan agama semata. Di sinilah nasionalisme menjadi jalan penyelesaian yang menghubungkan kepentingan mempertahankan negara-bangsa dengan warga agar tumbuh-kuat rasa memiliki dan mencintai.

Pendekatan Tasawuf
Terdapat berbagai pendekatan diperlukan untuk meredam ideologi ini. Fajar Purwadinata dalam Jaringan Baru Teroris Solo (2014) memaparkan empat pendekatan sebagai penanggulangan, yakni penegakan hukum, pencegahan, deradikalisasi dan disengagement (mengubah perilaku kekerasan menjadi antikekerasan). Keempat cara ini dalam analisanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Pertama, adanya tindakan arogan Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Kedua, tidak ada tindakan tegas aparat terhadap kemaksiatan. Ketiga, kurangnya kepedulian masyarakat. Keempat, adanya pondok pesantren dan pengajian-pengajian yang mengajarkan ideologi Islam radikal. Kelima, tindakan pencegahan terorisme hanya bersifat reaksioner. Keenam, belum dilaksankannya deradikalisasi secara sistematis. Dan ketujuh, belum dilaksanakannya disengagement dengan baik.
KH Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Seorang tokoh Nahdlatul Ulama asal Pekalongan, Jawa Tengah menempuh pendekatan lain. Dalam memadamkan ideologi dan gerakan kelompok Islam yang marah itu, Habib Lutfi memetik nilai-nilai dari tasawuf untuk melembutkan hati umat muslim. Pendekatan ini sekaligus melawan pendekatan ideologi jihadis yang secara terang-terangan memerangi ajaran sufi. Ideologi jihadis dilawan dengan ideologi tasawuf. Pada akhirnya kelembutan yang akan menang sebagaimana Nabi Muhammad yang melawan kekerasan orang-orang yang memusuhi dakwah dan syiarnya pada masa awal Islam.
Kaum tasawuf dituling jumud, pasif dan ketinggalan zaman. Kepasifannya tak ditentang oleh Ibn Taimiyah dan akhirnya diadopsi gerakan jihadis. Klaim ini tidak benar. Kaum tasawuf memiliki andil dalam gerakan antikolonial. Kini pada abar modern, aktivitasnya mengarah ke isu-isu kontemporer (Musyafiq, 2011: 78). Nasionalisme adalah salah isu modern yang relevan, karena merepresentasikan peran kaum tasawuf di masa lalu dan masa kini.
Citra Islam diselamatkan dengan menunjukkan kelemahlembutan dalam beragama. Tasawuf bermuara pada kelembutan hati. Pendekatan ini diminati oleh sebagian besar umat muslim, terbukti dengan banyaknya agenda pengajian yang menghadirkannya dan tingginya animo umat muslim menyimak tausiahnya.
Kaum sufi sejak dahulu berperan aktif mengusir penjajah. Masa-masa awal perlawanan ulama di Nusantara sejak masa kolonial di abad ke-17 sampai ke-20 melibatkan kaum sufi. Syech Yusuf al-Maqasari (1627-1699) memimpin perhadap Belanda di Banteng pada 1683. Dia adalah ulama yang berbait tarekat Khalwatiyyah di Damaskus kepada Ayyub al-Khalwati. Belanda menumbangkan Syekh Yusuf dan mengasingkannya ke Ceylon (1683) kemudian ke Tanjung Harapan (1693) hingga meninggal di sana pada 1699 (Michael Laffan, 2016: 22).
Pemberontakan kaum tarekat ini meningkat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Tarekat terlibat dalam protes terkait persoalan politik dan ekonomi dengan sentimen antikolonial yang kuat (Bruinessen, 2012: 240).
Metode dakwah Wali Songo mengutamakan kelembutan. Kekerasan bukankan ciri dakwah para wali yang berjasa mengislamkan Jawa. Dalam pandangan Habib Lutfi, para wali mampu membedakan antara nafsu dan kasih sayang dalam berdakwah (Tsauri, 2012: 224). Ketika menjumpai kemungkaran, waliyullah tidak langsung marah kepada masyarakat, melalui pendekatan yang lembut mula-mula masyarakat diingatkan dan diajak untuk menghidari. Habib Lutfi berkata:
“Tanda sadar, dia telah mendahulukan amarahnya… Nafsu itu jika dituruti akan terus meminta lebih. Jadi Para wali-wali Allah sangat menjauhi ajakan nafsu itu.”
Habib Lutfi tidak mengajak untuk menjadi wali, namun meneladani sikap dan tingkah lakunya dalam berdakwah. Dakwah yang penuh amarah dan darah justru menjauhkan Islam dari umatnya sendiri dan dari orang-orang yang belum mengenal Islam. Pendekatan IS dalam dakwah dengan metode takfiri (mudah mengkafirkan dan membunuh kafir) adalah salah besar. Nafsu menutupi hatinya dari kelembutan-kelembutan cahaya keislaman.
Dari nilai-nilai tasawuf, Habib Lutfi memancarkan sebuah patronase dalam dakwahnya yakni nasionalisme. Isu itu selalu diangkat dari podium ke podium pengajian desa sampai forum internasional. Dia dekat dengan tokoh-tokoh militer di Indonesia, karena konsistensinya mengangkat tema nasionalisme dalam dakwah. Susilo Bambang Yudhoyono saat masih menjadi Presiden menghadiri Maulid Nabi di Gedung Kanzuz Shalawat. Demikian juga Menteri Politik, Hukum dan Keamanan, Luhut Panjaitan mewakili Presiden Joko Widodo datang ke kediamannya usai Maulid Nabi 2016. Dalam pertarungan Pilpres 2014 lalu, kubu Prabowo Subianto mengutus calon wakil presiden Hatta Rajasa, meminta restu dan doa. Habib Lutfi telah menjadi pusat perhatian wong cilik dan pembesar negara-bangsa saat ini.
Setidaknya selama lebih dari satu dekade (kali pertama penulis berjumpa dalam forum pengajian Habib Lutfi pada 2004 di Undaan, Kudus, Jawa Tengah hingga 2016), Habib Lutfi menempatkan nasionalisme sebagai topik utama dalam ceramahnya. Bukan berarti ia tidak mempunyai materi dakwah selain itu, melainkan menandakan pentingnya menghargai pendahulu dan mencintai bangsa. Kerapkali Habib Lutfi mengutarakan “rasa malu terhadap perjuangan ulama-warga Negara yang telah mengorbankan jiwa raganya membela Tanah Air. Karena sumbangsih yang diberikan anak bangsa belum sebanding dengan perjuangan pendahulu.
Dalam era informasi ini, nilai-nilai tasawuf dikemas melalui cara konvensional (pengajian dan pengajaran) dan modern (memanfaatkan media sosial dan website pribadi). Pola ini ditempuh mengikuti kebanyakan para ulama di Indonesia yang menjadikan teknologi sebagai medium dakwah agar menjangkau kalangan muda dan para murid yang jauh secara fisik dengan gurunya, sehingga saat berinteraksi di media social, sang guru seolah-olah hadir dan berkomunikasi langsung dengannya secara real time. Tren ini pertama-tama dari KH Mustofa Bisri dari Rembang, Jawa Tengah dengan membuka akun twitter.
Habib Lutfi tak lagi muda. Lahir pada 10 November 1947 di Pekalongan, Jawa Tengah, Habib Lutfi kini memasuki usia 69 tahun. Semangatnya dalam berdakwah tak pernah surut. Lantang, tegas dan runtut adalah ciri khas penyampaian dakwahnya.
Ra’is ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdiyah (Jatman), organisasi tarekat Indonesia yang berafiliasi dengan NU ini, memiliki kesadaran kebangsaan tinggi, karena telah melihat, mengalami dan mendengar sejarah kedatangan Islam di Nusantara dan pembaurannya di masyarakat serta peran para tokoh bangsa khususnya dari kalangan Islam yang menyokong perjauangan kemerdekaan.
Pendekatan ini  memiliki keunggulan, karena mengandalkan ketaatan murid dengan mursyid. Perintah guru ruhani adalah perintah langit karena mereka merepresentasikan diri sebagai pewaris para Nabi dan Rasul. Menolak dawuh mursyid sama saja dengan menolakperintah yang berujung pada “murtad” dari persaudaraan tarekat.
Titik tekan tasawuf para perilaku dan telah melampaui perkara hukum di dalam syariat yang diperdebatkan tiada hentinya hingga saat ini seperti tahlil, qunut, ziarah kubur dan lainnya. Tasawuf menjadi medium bagi peleburan segala perbedaan pandangan (khilafiyah) dalam kehidupan syariat umat Islam. Cara-cara beribadah dikembalikan ke mazhab masing-masing yang dianut. Umat Islam diajak bersatu untuk memajukan bangsa-negara.
Rasa memiliki sesama umat beragama pada masa lalu telah membawa bangsa ini lepas dari kolonialisme. Islam memiliki kontribusi besar dalam penyebaran nasionalisme. Menurut George McTurnan Kahin dalam Nasionalisme dan Revolusi Indonesia (2013: 52), satu faktor penting yang mendukung pertumbuhan nasionalisme Indonesia yang lebih terpadu adalah tingginya derajat homogenitas keagamaan di Indonesia, yakni sekitar 90 persen penduduknya beragama Islam. Keberadaan penjajah dari Portugis dan Belanda di sisi lain mengonsolidasikan umat Islam dalam perjuangan melawannya melalui semangat agama. Penjajah dipandang sebagai kafir yang harus diperangi.
Perjuangan kemerdekaan dengan dorongan spirit agama muncul di berbagai tempat pada masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang. Zainul Milal Bizawie (2014: 205) memaparkan terbentuknya laskar-laskar santri dan ulama di Surabaya memperjuangkan kemerdekaan, seperti Laskar Hizbullah. KH Hasyim Asy’ari—pendiri Nahdlatul Ulama pada tahun 1926—mengeluarkan fatwa yang dikenal Resolusi Jihad untuk memerangi penjajah merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan apabila meninggal dinyatakan mati syahid. Identitas penjajah dilihat dari sisi agamanya yang berseberangan dengan Islam yakni kafir.

Kesadaran Kebangsaan
Habib Lutfi merupakan perwujudan dari ulama-ulama terdahulu yang berperan dalam membela bangsa dan negara. Perjalanan ilmiah dan ruhaniah yang telah ditempuh bersisihan dengan jalur para ulama nasionalis. Jalur keilmuan yang ditempuh merupakan jalan yang sama para ulama terdahulu dengan dengan fokus menuntut ilmu di Timur Tengah selama bertahun-tahun.
Dalam profil singkat Habib Lutfi di website resminya habiblutfi.net (diakses 25 Maret 2016) dengan jelas terpampang silsilah sanad tarekat. Tarekat identik dengan kaum sufi.
Habib Lutfi menerima ajaran agama dari orang tua, paman dan guru di Madrasah—yang kemungkinan berada di Pekalongan—selama tiga tahun, kondisi Indonesia mulai stabil.
Dia mengembara ke berbagai pesantren seperti Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Fase terpenting yang mendudukkan Habib Lutfi sekaliber ulama terdahulu yakni keputusannya menuntut ilmu ke Makkah dan Madinah, sekaligus menunaikan ibadah haji.
Di sana, Habib Lutfi meniti jalur ruhaniah dengan mengambil semua tarekat dari Syekh Muhammad al Maliki bin Alawi Abas. Dari gelar gurunya diketahui, Syekh Maliki merupakan ulama terpandang di Makkah dan Madinah yang memiliki ayah seorang mufti di Haramain. Setidaknya enam tarekat yang menempatkan Habib Lutfi sebagai pewaris dan penerus sanad sebagai seorang mursyid, yakni Naqsyabandiyah Khalidiyah, Syadzaliyah, al ‘Alawiya al ‘Idrusiyah al ‘Atha’iyah al Hadadiah, Yahyawiyah, Qadariyah Naqsyabandiyah dan Tijaniyah. Tarekat yang diambil sebagian besar tumbuh, berkembang dan populer di Indonesia seperti Naqsyabadiyah Khalidiyah, Qadariyah Naqsyabandiyah, Tijaniyah dan Syadziliyah (Mulyati, 2011).
Ada sebuah peristiwa sejarah menarik yang tidak terkait langsung dengan Habib Lutfi tapi dapat menjadi latar belakang keterlibatan peranakan arab dalam medan perjuangan bangsa. Peristiwa itu menjadi landasan historis untuk membaca jejak-jejak pemikiran Habib Lutfi dalam mengaungkan nasionalisme.
Sebuah gerakan dari keturunan Arab terjadi pada 4 Oktober 1934—enam tahun setelah Sumpah Pemuda pada 1928—berupa Sumpah Peranakan Arab di Semarang. Abdul Rahman (AR) Baswedan, merupakan pelopor dan aktif menggalang berlansungnya sumpah peranakan Arab itu di tengah kondisi bangsa yang masih tertatih akibat kolonialisme. Sumpah itu adalah upaya peleburan orang Arab di Indonesia baik peranakan maupun keturunan asli untuk membangun Indonesia dengan berikrar Tanah Air orang Arab adalah Indonesia (Suratmin dan Didi Kwartanada, Biografi A.R. Baswedan: Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan, 2014).
Para sayid di Indonesia sebagian besar merupakan keturunan dari Hadramaut, Yaman. Habib Lutfi lahir di Pekalongan 68 tahun lalu atau tahun 1947, di mana terdapat banyak koloni Arab di sana. L.W.C. van den Berg dalam Orang Arab di Nusantara (2010) mengungkapkan, koloni Arab sudah ada di Pekalongan pada awal abad ke-19. Sebagian besar di antaranya adalah golongan sayid yang kawin dengan anak perempuan para pemimpin pribumi. Jumlahnya orang arab di Pekalongan pada tahun 1885 (757 orang), tahun 1870 (608) dan tahun 1859 (411). Dari jumlah itu sebanyak 123 orang arab laki-laki merupakan pendatang dari Hadramaut kemudian menikah dengan penduduk pribumi dan melahirkan generasi kedua orang Arab di Nusantara.
Nasionalisme tidak secara langsung diusung dan disampaikan Habib Lutfi dalam dakwah. Akar-akarnya dapat ditelusuri dari pemahaman, praktik dan penghayatan tasawuf. Buah pikirannya termanifestasian dalam buku Secercah Tinta: Jalinan Cinta Seorang Hamba Dengan Sang Pencipta (Ahmad Tausri, Ed, 2012). Editor tidak menyunting tulisan-tulisan Habib Lutfi, melainkan ceramah-ceramahnya selama lima tahun (2007-2012). Habib Lutfi telah menashih tema-tema dalam tulisan itu. Dengan kata lain, buku ini mewakili sudut pandang Habib Lutfi.
Kesadaran kebangsaannya dibangun dari kesadaran tasawuf. Menurut Habib Lutfi adab atau akhlakul karimah merupakan satu dari tiga sumber tasawuf (Tsauri, 2012:200). Adab ini menjadi sumber inspirasi dalam dakwah-dakwahnya. Dia menghidupkan masa lalu dengan mengangkat kisah-kisah para wali dan pejuang kemerdekan, karena semata didorong oleh adab. Adab di sini berupa ungkapan syukur terkait kondisi bangsa-negara saat ini yang tentram, kondusif dan bebas dari belenggu penjajah. Kondisi saat ini adalah cerminan perjuangan, sehingga tidak beradab apabila mengingkari sumbangsih orang-orang di masa lalu.
Tumbuhnya kesadaran tersebut mendorong Habib Lutfi untuk konsisten menyebarkan nasionalisme sebagai sebuah nilai dan jalan hidup. Dia setuju konsep bela negara yang sekarang sedang ramai dibicarakan, tetapi bukan dalam bentuk fisik mengikuti program Kementrian Pertahanan, melainkan secara batin yakni menjunjung tinggi kepentingan bangsa atas kepentingan pribadi. Termasuk kepentingan umat Islam atas nafsunya dalam beragama yang berbuntut konflik horizontal sesama muslim dalam bidang fiqh. Lebih jauh lagi, kepentingan pribadi kelompok muslim yang mendepankan amarahnya dalam berdakwah. Hal ini menjerumuskan umat muslim dalam “kebodohan” untuk selama-lamanya.
Terkait bela negara ini, Jatman yang dinahkodai Habib Lutfi menggelar Konferensi Internasional Ulama Thariqah Bela Negara yang digelar awal Januari 2016 di Pekalongan. Kaum sufi itu sepakat mempertahankan tanah air sebagai tanah tumpah darah serta menolak ideologi ekstremisme. Poin menarik dalam hasil konferensi itu yakni bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengan bimbingan para ulama (habiblutfi.net, Konsensus Bela Negara Hasil Konferensi Ulama Thariqah, 16 Januari 2016).
Secara lengkap berikut hasil konferensi yang ditandatangani oleh Habib Luthfi, Shaekh Adnan (Suriah), Shaekh Fadhil Al Jilani (Turki), Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya (Yaman), Shaekh Aziz Idrisi (Maroko), Shaekh Aziz Abidin (Amerika Serikat) Shaekh 'Aun al Qaddoumi dan Shaekh Umar Hadhrah (Sudan):
1.   Negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.
2.   Bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.
3.   Bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukanya.
4.   Bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.
5.   Bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengam bimbingan para ulama.
6.   Bela negara tidak terbatas melindungi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik, pertanian, sosial budaya dan teknologi informasi.
7.   Bela negara menolak adanya terorisme,radikalisme dan ekstrimisme yang mengataasnamakan agama.
8.   Untuk mewujudkan bela negara dibutuhkan empat pilar, yaitu ilmuwan, pemerintahan yang kuat, ekonomi dan media.
9.   Menjadi Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari Islam rahmatan lil alamin.
Para penandatangan mewakili peradaban muslim di negara masing-masing. Salah satunya dari Suriah yang negaranya sedang porak poranda akibat ISIS. Para wakil Islam di Timur Tengah, Eropa dan Amerika ini membubuhkan harapan terhadap kepada Indonesia, negara dengan penduduk mayoritas muslim, untuk menjaga tanah airnya. Apa yang telah diambil dari ulama-ulama di Timur Tengah pada dahulu kala agar dipertahankan dan imbas dari konflik di sana dihalau dengan menguatkan paham nasionalisme. Melalui konferensi tersebut, nasioanalisme digadang-gadang menjadi inspirasi bagi peradaban muslim dunia.
Pada gilirannya, nasionalisme membentuk sebuah relasi agama dan bangsa yang kuat. Relasi itu dapat berbentuk mutualisme (saling menguntungkan) dan parasitisme (salah satu dirugikan). Esensi dari perspektif tersebut dalam memandang hubungan dapat dijadikan pisau analisa membedah relasi agama bangsa.
Habib Lutfi telah menjadi role model bagi umat muslim dunia dalam memandang tanah air. Dia telah berhasil menggalang dukungan internasional untuk menyuarakan persatuan umat muslim di tengah konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Konferensi tersebut bagai oase yang membuka jalan bagi suara-suara perdamaian dalam konflik politik berbalut agama di Timur Tengah. Umat muslim dunia diajak untuk mempertajam persatuan daripada menguatkan perbedaan.
Agama dan bangsa diuntungkan dengan semangat nasionalisme yang tinggi dari umat beragama. Doktrin bahwa cinta bangsa  merupakan bagian dari iman menancap kuat disanubari. Agama menjadi pemantik berbangsa dan bernegara dengan baik. Umat beragama taat tidak hanya kepada norma agama, tetapi juga terhadap keputusan pemerintah yang tidak bertentangan dengan norma di dalamnya. Kepatuhan ini akan menciptakan suasana harmonis antar umat beragama dan pemerintah. Selebihnya, toleransi beragama dan perbedaan dalam sebuah negara tidak menjadi masalah krusial, melainkan menjadi kekuatan untuk memajukan bangsa.
Di sisi lain relasi parasitisme mengakibatkan agama atau bangsa terluka. Misalnya kasus terorisme dan ancaman global IS. Dalam konteks ini bangsa dirugikan. Lebih dari itu tatanan masyarakat amburadul akibat sikap ekstrim kelompok teroris yang mengatasnamakan agama. Agama menjadi alat politik untuk memperjuangkan sebuah ilusi bernama Negara Islam.
Padahal kesimpulan “jihad” yang diusung kelompok ekstrim untuk melukai negara bertentangan dengan ruh ajaran agama. Kesimpulan jihad berupa penumpasan masyarakat dan bangsa yang berseberangan keyakinan diambil dari sepengggal ayat yang menyerukannya. Jihad adalah penumpasan musuh berlainan keyakinan (agama). Negara merupakan musuh karena dalam memerintah tidak menggunkan konsep agama. Untuk mengekspresikan kebergamannya sikap ekstrem menjadi pilihan. Kesimpulan itu, bertentangan dengan ajaran agama sendiri, yakni mengajarkan kedamainan.

Dalam tinjauan ilmu tafsir, orientasi jihad saat ini bukanlah bermakna perang dalam bentuk verbal (fisik), melainkan personal dan sosial. Bagaimana menjadikan jiwa tetap hidup di dalam perintah dan mampu sejauh mungkin menghindari larangan-Nya. Itulah pertanyaan yang harus dijawab dalam kerangka merefleksikan jihad kekinian, bukan dengan perang. Menciptakan negara-bangsa dan juga dunia juga sebuah jihad yang tak pernah selesai meski maut menjemput. Namun, upaya tersebut niscaya akan dilanjutkan oleh anak-cucu kita. Sebagaimana sejarah, jihad menegakkan kesadaran kebangsaan akan terus tersambung. Jika saat ini Habib Lutfi adalah tonggak penerus perjuangan, pada masa depan diharapkan akan terus muncul Lutfi-Lutfi lainnya. Semoga! 

[Zakki Amali]

*Esai ini termuat dalam buku Islam Nusantara: Inspirasi Peradaban Dunia (2016: 151-168). Judul esai diubah dari judul asli "Nasionalisme Kaum Sufi" dengan pertimbangan penyesuaian redaksional.

Komentar